MUHAMMADIYAH TIDAK PUNYA TAUTAN DENGAN WAHABI


Komentar : Alexander Abu Taqi Mayestino

BAGIAN 1:

Melawan Lupa! Mengingat Kembali Qaul Qadim (Pendapat Lama) Kiyai Haedar Nashir Tentang Muhammadiyah Dan Wahhabi.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1606092866392794&id=100009762878097&sfnsn=wiwspmo

🌍 MUHAMMADIYAH PUN SAMPAI DIKATAI SEBAGAI 'WAHABI' DAN "KADRUN" OLEH MEREKA

Dulu, bahkan SEJAK AWAL, organisasi massa Islaam Ahlus Sunnah was Salafiyyaah yang tertua (aktif sejak 1330 Hijriyah atau 1912 Masehi) dan terbesar, serta terkaya di Indonesia, yang masih resmi ada, yakni MUHAMMADIYAH, dimaki sebagai:

Wahabi.

Padahal ini istilah hasil rekayasa musuh Islaam, dan tidak benar dalam Sejarah, Aqidah, Tata Bahasa Arab. 

Juga dikatai "Kadrun", di masa Muhammadiyah di Masyumi (bersama Al Irsyad, Persis, dkk.). Menentang Nas-A-Kom (Nasionalisme - Agama - Komunisme) koalisi PNI, NU, dan PKI.

Bahkan K. H. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dikatai sebagai "Kyai Palsu", "Kafir", hingga Mushollah beliau di Yogyakarta dibakar dan - bersama Nyai Walidah istri beliau dan K. H. Muhammad Suja' sahabat beliau - diserang hendak dibunuh di Banyuwangi oleh 'kaum Islam Jawa Tradisional (Abangan, Kejawen)'.

Karena dianggap 'lain'.

Karena K. H. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah menentang Takhayyyul, Bid'ah, Churofat. Sesuai Al Qur'aan, As Sunnah, was Salafiyyaah.

Muhammadiyah sejak dulu terkenal bersemboyan:

Anti TBC (Anti Takhayyul, Bid'ah, Churofat)).

Juga karena Muhammadiyah memang mengikuti ajaran dengan sanad yang lurus sejak:

Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab at Tamimi (*), syaikh Muhammad Rosyid Ridho, syaikh Muhammad 'Abduh, syaikh Jamaluddin Al Afghani, syaikh 'Ibnul Qoyyim, syaikh 'Ibnu Taimiyyah, Imaam Madzhab Yang Empat (Abu Hanifah (Hanafi), Malik, Syafi'i dan Ahmad bin Hanbal (Hanbali)), dan sampai ke 3 generasi Salafush Sholih - Sahabat Nabi, Tabi'iin, dan Tabi'ut Tabi'iin - yang dijamin ALLAAH sebagai yang terbaik sampai Rosuululloh shollollohu 'alaihi wa sallam.

Kitab Al Mannar yang banyak juga dipakai di Muhammadiyah (selain Ibnu Katsir, dll.) jelas memuat ajaran mereka. Tanpa kecuali.

Keterangan:

(*) Karena ini, Muhammadiyah juga dimaki sebagai 'Wahabi'. Padahal ini hanyalah istilah fitnah yang tidak benar dalam Tata Bahasa juga Aqidah dan Sejarah, oleh Inggris, Sufi, Syi'ah, dan Komunis di Indonesia di masa NASAKOM (PNI, NU, PKI) versus MASYUMI (Muhammadiyah, Al Irsyad, Persis, dkk.)

🔹Lihat Sejarah Muhammadiyah:

https://muhammadiyah.or.id/sejarah-singkat-muhammadiyah/


BAGIAN 2:

🔹Muhammadiyah itu golongan Ahlus Sunnah Salafiyyah:

https://pwmu.co/40369/11/03/muhammadiyah-itu-golongan-ahlus-sunnah-salafiyyah/

🔹Muhammadiyah adalah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah As Salafiyyah:

https://www.google.com/amp/s/sangpencerah.id/2013/12/pandangan-prof-dr-yunahar-ilyas-tentang/%3famp

🔹Ahlus Sunnah Al Jama'ah

https://www.google.com/amp/s/pwmu.co/17744/11/06/yunahar-ilyas-muhammadiyah-adalah-ahlussunnah-wal-jamaah/amp/

Muhammadiyah tidak bermadzhab karena berperbandingan Madzhab. Berusaha merujuk ke generasi Salafush Sholih:

https://muhammadiyah.or.id/mengapa-muhammadiyah-tidak-bermadzhab/

https://ibtimes.id/mengapa-muhammadiyah-tidak-bermadzhab/

http://www.umm.ac.id/id/muhammadiyah/10838.html

http://tabligh.id/agama-islam-yang-dianut-oleh-muhammadiyah-berbeda-dengan-agama-islam-yang-dianut-oleh-ummat-islam-umum/

Tambahan: Tidak bermadzhab ini sama dengan pendirian banyak Ormas, lembaga, masyarakat Islam lain, misalnya, satu di antaranya, Persis.

https://www.sigabah.com/beta/tidak-bermadzhab-sebagai-madzhab-persis/

🔹Salah satu dasar Aqidah Ahlus Sunnah Was Salafiyyaah yang dianut Muhammadiyah:

Allaah istiwa' fi 'Arsy

https://muhammadiyah.or.id/benarkah-allah-ada-di-atas-arsy/

https://fatwatarjih.or.id/apakah-allah-bersemayam-di-atas-arsy/

🔹Tauhid Asma Wa Sifat Ala Keputusan Muktamar Ke-18 sesuai 'Aqidah Ahlus Sunnah Was Salafiyyaah

http://tabligh.id/tauhid-asma-wa-sifat-ala-keputusan-muktamar-ke-18/

🔹Muhammadiyah Anti Bid'ah

http://tabligh.id/sikap-muhammadiyah-kepada-pelaku-bidah/

🔹 Muhammadiyah Tidak Bertarekat Sufi/Tasawuf

https://suaramuhammadiyah.id/2019/12/20/mengapa-muhammadiyah-tidak-bertarekat/


BAGIAN 3:

🌍🌿 MASIH PERCAYA KEBOHONGAN SYI'AH DAN MUSUH ISLAM BAHWA GOLONGAN WAHABI ITU ADA?

Sungguh menyedihkan, sebagian kaum Muslimiin Indonesia larut turut dalam kesalahan bahkan kebodohan, akibat tak belajar benar.

Mau saja dihasut dengan kesalahan sebut dari kaum Inggris jaman dulu, yang dimanfaatkan Syi'ah, Komunis, Mistikus, musuh-musuh Islaam untuk memecah belah sesama Ahlus Sunnah.

Namun sudah banyak pula yang sadar bahwa SYI'AH SEDANG MENCOBA MENDEKATI MASSA NU YANG BANYAK ITU, melalui rayuan seakan-akan banyak ritual 'khas' NU, adalah SAMA dengan ritual Syi'ah.

Ini ada benarnya, walaupun tidak sepenuhnya. Karena NU juga mengadopsi, membolehkan Sufi.

Sedangkan Sufi, membesar bersamaan dengan Syi'ah, utamanya di masa kekholifahan Abbasiyyaah!

Mereka ada saling mempengaruhi, satu sama lainnya.

Tetapi NU generasi pertama (1926), ADALAH BANYAK KESAMAANNYA dengan Muhammadiyah (1912), Al Irsyaad (1914), dan Persatuan Islam/Persis (1923). Tidak seperti mayoritas kaum Nahdliyyiin kini.

Bahkan fatwa dari KH Hasyim Asy'ary tegas MELARANG NAHDLIYYIIN MENDEKATI, MEMPELAJARI, DAN MENGIKUTI SYI'AH.

Satu hal yang ironis kini, karena KH Said 'Aqil Siradj (SAS) Ketum PB NU, adalah dikenal sebagai pendukung Syi'ah dan Liberalisme kini!

Sudah lama dibahas - juga di media ini - mengenai betapa bodohnya dan tidak mungkinnya sebutan, dan ada golongan 'Wahabi'.

Berdasarkan keterangan pakar Tata Bahasa, 'ulama 'Aqidah Ahlus Sunnah, dan Tarikh (Sejarah).

Termasuk dari Buya HAMKA Ketua Umum MUI pertama, dan Habib Ahmad bin Zen Alkaff, dan banyak 'ulama serta pakar sedunia.

Itu adalah kesalahan sebut Inggris terhadap kaum Muslimiin, Ahlus Sunnah Wal Jama'ah di jazirah Arabia Tengah (kini sebagian besarnya menjadi Arab Saudi), dan kesalahkaprahan ini lalu dimanfaatkan Syi'ah, Sufi, Liberalis, Komunis, dkk. untuk mengadu-domba Muslimiin, bahkan dengan berbagai tambahan kebohongan.


BAGIAN 4:

🔶Dalam Tata Bahasa Arab, karenanya, TIDAK MUNGKIN disebut 'Wahabi' karena sebutan ini secara gegabah dan salah dinisbatkan kepada (Syaikh) MUHAMMAD bin 'Abdul Wahhab At Tamimi (dari Bani Tamim, Quraisy).

Beliau guru agama Ahlus Sunnah wal Jama'ah, dengan mengikuti pemahaman (manhaj) kaum Salafush Sholih/kaum Pendahulu Yang Salih (*), mengajarkan semua sistem Madzhab Fiqh, namun lebih menyenangi Madzhab Hanbali (dan ini wajar dan diperbolehkan dalam Islaam).

Keterangan: (*) Mereka seluruh 124.000 nabi dan rosul beserta ummah/muridnya masing-masing.

Khususnya Rosuululloh Muhammad - shollollohu 'alaihi wasallam - dan 3 generasi pertama murid beliau yang dijamin terbaik, yakni generasi Shahabah Nabi, generasi Tabi'iin, dan generasi Tabi'ut Tabi'iin.

Nama beliau sendiri adalah "Muhammad", dan nama ayahnya, karenanya, adalah 'Abdul Wahhab At Tamimi (artinya, dari keluarga Quraisy terhormat Bani Tamim). Maka secara Tata Bahasa, pengikutnya disebut "Muhammadi" atau "Muhammadiyyah".

Bukan "Wahhabi".

🔶Lebih lagi, dalam standar 'Aqidah Islaamiyyah, TIDAK MUNGKIN mereka disebut 'Wahabi' atau 'Wahhabi', karena nama "Al Wahhab" adalah nama ALLAH. Dan secara 'aqidah, manusia tak dibenarkan memakai nama ALLAH: "Al Wahhab" (kecuali dengan didahului kata "Abdul" atau "hamba dari").

Dan karenanya - walau artinya bagus - tidak wajar menyebut Muslimiin sebagai "Wahhabi" (Pengikut ALLAH Al Wahhab).

🔶Dalam tinjauan Tarikh (Sejarah), TAK MUNGKIN pengikut Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab At Tamimi disebut 'Wahabi', karena yang disebut demikian pengikut 'Abdul Wahhab bin Rustum, seorang Khowarij (ekstrimis) di Abad III-IV Hijriyyah.

Sementara Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab At Tamimi hidup di Abad XII-XIII Hijriyyah, dan seorang guru agama Ahlus Sunnah wal Jama'ah biasa.

Tapi ada usaha mengesankan keduanya adalah sama.

Utamanya untuk membangun propaganda kebencian terhadap Ahlus Sunnah, terhadap Madzhab Hambali, terhadap Arabia/Arab Saudi.

Biasanya dari agen-agen laten atau terbuka dari kalangan Syi'ah, Orientalis, Komunis, dll., dan yang terpengaruh oleh mereka, sadar/tidak.

Dan ingatlah:

🔶Di Nusantara/Indonesia, sejak dulu yang dimaki sebagai Wahabi atau Wahhabi dengan SEENAKNYA adalah:

🔹Imam Bonjol - semua Muslimiin Minangkabau (Sumatra Barat) yang pada dasarnya biasanya bergabung di "Muhammadiyah" (setelah organisasi Islam "Muhammadiyah" berdiri).

🔹Muhammadiyah, organisasi Islam yang TERTUA di Nusantara dan masih ada (berdiri di tahun 1912 dengan akta Notaris resmi di tahun 1914 di Yogyakarta), dan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

🔹Al 'Irsyaad Al Islamiyyah (1914 dan resmi di 1915 di Surabaya) dan kaum jama'ah keturunan Arab non 'Alawiyyiin/Non Habaib.

🔹Persatuan Islam/Persis (1923 di Bandung)

🔹Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia/DDII (1967 di Jakarta)

🔹Hidayatullah (1973)

🔹Wahdah Islamiyah (1988)

🔹HASMI (2005)

🔹PULDAPII (2017)

🔹Buya HAMKA, Ketua Umum MUI pertama, tokoh Muhammadiyah, serta Pujangga/Sastrawan nasional.

🔹Syaikh DR. Muhammad Natsir, Perdana Menteri RI pertama, Pahlawan Nasional RI, dan pendiri DDII.

🔹Syaikh Ahmad Hassan, tokoh Persis dan salah satu guru Bung Karno.

🔹Bung Karno, aktivis Muhammadiyah, anggota Muhammadiyah sampai meninggalnya, dan Proklamator RI, Presiden I RI.

🔹Bung Hatta, aktivis Muhammadiyah dan Proklamator RI, Wakil Presiden I RI.

🔹Ustadz dan Panglima Besar Jenderal Sudirman, warga Muhammadiyah dan gerakan kepanduannya.

🔹Syaikh Haji Agus Salim.

🔹Kaum muslimiin Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang berusaha meneladani kaum Salafush Sholih (yakni Rosululloh shollollohu 'alaihi wasallam dan para Sahabat Nabi lalu para Tabi'iin dan lalu para Tabi'ut Tabi'iin) yang DIJAMIN ALLAH sebagai yang terbaik, sebagai Salafiyyuun.

Dll.

🌿🔶Hanya karena mereka tak mau memperingati kematian dan makan-makan di hari hitungan Hindu (hari ke 1, 3, 7, 40, 100, 1000), tetap ziarah kubur namun tak mengkeramatkan kuburan dan beribadah di sana, tak selalu berqunut kecuali ada musibah, tak membaca basmalah dengan jahr saat Al Fatihah dan Surah2 lain, tak merayakan Maulid karena ini kebiasaan Syi'ah, tak Haul, tak berdzikr kencang-kencang juga berjama'ah apalagi memakai musik, tidak suka Mistik, tidak menyanyi Barzanji, biasanya berjanggut, biasanya bercelana cingkrang tak isbal, berhijab syar'i, Anti Syi'ah, Anti Komunis, Anti Penjajahan Kolonialisme, Anti Yahudi Zionis, Pro Palestina, Pro Syari'ah, dll.❗

Dimaki sebagai Wahabi❓

Padahal mungkin saja mereka Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang lebih sejati, in syaa Allah. 🌍🌿


BAGIAN 5:

🔸 *VIDEO PROF. DR. KH A. ZAHRO ULAMA SENIOR NU (NAHDLATUL ULAMA): WAHABI ITU AHLUS SUNNAH DAN TIDAK SESAT:*

https://youtu.be/uzYw8InpAtc


BAGIAN 6:

🌏🇲🇨 Umat Islam Ditakut-takuti dengan HTI, Wahabi, dan Radikalisme

PWMU.CO – Umat Islam saat ini sedang ditakut-takuti dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Wahabi. Di samping itu sedang dipasung dengan istilah radikalisme. Pada sisi lain, umat Islam hendak dibutakan dari ancaman yang sesungguhnya yaitu komunisme.

Demikian benang merah pemikiran akal sehat yang bisa dipintal dari paparan Prof Dr Achmad Zahro, Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Prof Dr Aminuddin Kasdi, Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Drs Choirul Anam, mantan Ketua GP Ansor Jatim.

Mereka berbicara pada acara bedah buku “NU Jadi Tumbal Politik Kekuasaan Siapa Bertanggung Jawab?” di Gedung Astranawa, Selasa (26/2/19). Buku ini ditulis Choirul Anam yang juga dikenal sebagai tokoh NU kultural.

Menurut Achmad Zahro, umat Islam digiring untuk membenci faham Wahabi. Sampai ada yang mengatakan bahwa Wahabi itu iblis. “Kalau Wahabi itu iblis, berarti orang-orang yang shalat jamaah di Masjid Haram Mekah itu makmum kepada iblis,” katanya.

Karena, Imam di Masjid Haram itu mengikuti Wahabi yang bermazhab Hambali. Sedang Hambali itu sendiri termasuk Sunni (ahlus sunnah wal jamaah). Hambali termasuk mazhab yang juga diakui oleh Nahdlatul Ulama (NU) di samping Syafi’i, Maliki, dan Hanafi.

Umat Islam sengaja dikaburkan antara Wahabi yang didirikan Muhammad bin Abdul Wahab dengan aliran yang didirikan Abdul Wahab bin Abdurrahman Al Khoriji, pendiri mazhab Khawarij. “Yang sesat itu Khawaraij karena suka mengkafirkan Muslim yang lain,” tegas Zahro yang juga dikenal dengan Ketua Ikatan Imam Masjid Indonesia.

Lebih lanjur Zahro mengatakan, HTI digambarkan sebagai kekuatan dahsyat yang hendak mengganti Pancasila dengan sistem khilafah. Padahal khilafah versi HTI itu hanya gagasan. HTI itu sangat kecil dan tidak memiliki negara induk. Beda misalnya dengan Syiah yang memiliki negara induk yaitu Iran.

Penyebaran isu HTI dan Wahabi secara massif ini, kata Choirul Anam, untuk membutakan umat Islam dari ancaman yang sesungguhnya yaitu neo komunisme. Padahal sudah terang benderang neo komunisme sudah di depan mata.

Sejarah mencatat kumunisme selalu mencoba bangkit dari kekalahan dan membalas dendam. Kekalahan di pemberontakan Madiun 1948, lantas bangkit melakukan perlawanan tahun 1965. Apalagi komunisme memiliki negara induk yaitu Tiongkok atau Republik Rakyat China (RRC).

Aminuddin Kasdi melihat, sejak reformasi terlihat tanda-tanda PKI mau bangkit. Dimulai dengan usaha mengubah sejarah bahwa dalam peristiwa G30S PKI tahun 1965, PKI adalah korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Mereka dikorbankan dalam pertikaian internal TNI AD. Mereka korban kekejaman umat Islam. Lantas upaya mereka dilakukan dengan mengubah buku pelajaran sejarah di sekolah.

Penerus PKI mulai berani unjuk diri dengan menyatakan bangga sebagai anak PKI. Mereka melakukan pertemuan-pertemuan konsolidasi. Lantas mereka berjuang agar agar ada rekonsiliasi umat Islam dengan PKI. Berarti umat Islam harus mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada PKI. Gilirannya PKI harus boleh hidup kembali.

Mereka terus bergerak sampai sekarang. Panglima TNI waktu itu Gatot Nurmantyo mengetahui tentang ancaman neo PKI maka dia perintahkan menonton film Pengkhinatan G30S PKI agar generasi muda tetap waspada tetap bahaya PKI.

Zahro dan Anam juga mengedepankan, saat ini umat Islam dipenjara dan ditakuti dengan istilah radikalisme. Jika ada umat Islam yang bersikap asyyida’u alal kuffar (bersikap keras terhadap orang kafir) dianggap radikal dan tidak toleran. Mereka seolah satu aliran dengan ISIS, Al Qaeda. Padahal ISIS, Al Qaeda, HTI itu semuanya proyek untuk memecah belah umat Islam.

“Umat Islam harus waspada sedang hendak dipecah belah, diadu domba. Termasuk NU sekarang sedang dipecah belah. NU dijadikan tumbal oleh politik kekuasaan,” tegas Cak Anam.  (AgH)

https://pwmu.co/90003/02/27/umat-islam-ditakut-takuti-dengan-hti-wahabi-dan-radikalisme/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SILATURRAHIM DARI RUMAH KA RUMAH, MALAM JUM'AT MANGHADAPI RAMADHAN 1443H

IDEALNYA IMAM SHALAT BERJAMA'AH